Viaduk Bandung, Bukan Sekadar Jalur Kereta Api
Di tengah ingar-bingar Kota Bandung, berdiri kokoh sebuah landmark yang bukan cuma berfungsi sebagai jalur kereta api, yaitu viaduk. Akan tetapi, keberadaannya juga menjadi saksi bisu peradaban transportasi, arsitektur, dan dinamika pertumbuhan kota.
Viaduk—kata dalam bahasa Latin yang punya arti jembatan atau jalan di atas jalan raya, jalan kereta api—dirancang guna menghubungkan dua titik, seperti di atas lembah dan sungai. Viaduk Bandung—dulu masyhur dengan nama Viaduk Suniaraja/Viaduk Kebon Jukut—berbeda dengan jembatan pada umumnya. Terlihat sejumlah tiang penyangga yang tinggi sehingga menciptakan kesan kokoh sekaligus anggun.
Pada masanya, pembangunan viaduk disebut-sebut sebagai simbol peradaban teknologi dan modernisasi transportasi. Terlebih, peran kereta api di masa Hindia Belanda yang menjadi urat nadi perekonomian dan mobilitas masyarakat.
Mulanya, Viaduk Bandung hanyalah ide yang tercetus di antara ramainya pembangunan bulevar yang menghubungkan Jalan Suniaraja dan Jalan Raya Pos serta rencana pembaruan jalur kereta api. Hal tersebut bersamaan dengan hasrat Pemerintah Hindia Belanda yang berencana memindahkan ibu kota dari Batavia ke Bandung.
Wacana pembangunan viaduk di Kota Bandung telah tercetus sekitar tahun 1919, termasuk pembangunan viaduk di Jalan Suniaraja. Pembangunan viaduk ini bertujuan untuk menghindarkan perlintasan sebidang dan memperlancar arus lalu lintas.
Sejak 1924, di atas Sungai Cikapundung sudah terhampar dua jembatan besi yang rampung bersamaan dengan proyek jalur ganda Padalarang–Kiaracondong. Akan tetapi, jembatan tersebut dinilai tak memadai lagi sehingga mendorong percepatan pembangunan viaduk yang lebih kokoh dan fungsional seraya mengikuti tren arsitektur kota waktu itu.
Proyek pembangunan
Proyek pembangunan Viaduk Bandung yang terwujud pada 1938 memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Para tenaga ahli sipil dan tata kota serta para pekerja harus berpikir ekstra agar proyek tersebut tidak mengganggu perjalanan kereta api dan lalu lintas jalan raya di bawahnya.
Bouwbureau en Aannemer Lim A Goh beroleh kepercayaan mengerjakan proyek ambisius tersebut. Berkat ketelitian dan perencanaan yang matang khas teknik sipil Belanda, viaduk tercipta dengan gaya arsitektur art-deco yang anggun.
Selama pembangunan viaduk, kereta api dari Stasiun Bandung terutama yang menuju ke arah timur dan sebaliknya, tetap beroperasi. Perusahaan kereta api negara—Staatsspoorwegen—melakukan penyesuaian jadwal agar kereta api bisa tetap berjalan.
Lebih dari delapan dekade, Viaduk Bandung masih berdiri kokoh hingga saat ini. Bukan sekadar saksi perjalanan sejarah, tetapi juga penanda waktu peradaban dan napas kehidupan yang tak pernah berhenti.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
