Potret Malam Bandung yang Sangat Sepi
Potret Kota Bandung yang sunyi saat malam mungkin tak banyak orang yang pernah melihat dan merasakannya. Yup, sebab Bandung bisa dibilang kota yang ramai, baik siang maupun malam sehingga susah menangkap momen yang benar-benar sunyi.
Di kota mungil ini, sebetulnya tempat-tempat kuliner dan hiburan banyak yang buka usaha hingga lepas tengah malam menemani para pelanggan setianya. Kawasan Asia Afrika dan Braga yang menjadi pusat keramaian, bahkan kerap padat pengunjung terutama saat akhir pekan dan hari libur panjang lewat Braga Beken (Braga Bebas Kendaraan).
Namun, pada momen tertentu, suasana kawasan pusat kota atau kota lama Bandung itu kedapatan sunyi nyaris tanpa ada aktivitas: Potret Bandung Malam Sepi. Kendaraan pun, bahkan hampir tak ada yang hilir mudik.
Alun-alun Bandung

Jantung Kota Bandung di seputar Jalan Dewi Sartika dan Jalan Dalem Kaum yang setiap siang selalu ramai, saat lepas malam seakan berhenti berdetak, meminta rehat sejenak untuk bangkit kembali seiring terbitnya fajar.
Asia-Afrika – Braga

Pertigaan legendaris yang menghubungkan Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika mungkin tak pernah “tidur”. Meski hanya menyambut kedatangan warga yang melepas malam lelahnya sembari menikmati lampu kota yang syahdu.
Asia Afrika

Andai angklung-angklung itu bisa mengeluarkan bunyi, mungkin suasana sunyi ruas jalan legendaris yang dulu dikenal Grote Postweg ini riuh saban hari. Namun, keheningan malam Jalan Asia Afrika mengabarkan: Bandung sedang lelap.
Naripan – Braga

Dulu, Bang Naripan asal Betawi mungkin sering mengalami suasana sunyi seperti ini saat ia mengais rezeki di seputar Jalan Braga dengan menyewakan kereta kuda. Warawiri delman untuk menunjang mobilitas kaum berada itu tinggal nostalgia.
Braga – Asia-Afrika

Hai Rathkamp! Meski wajahmu paling tua di pertigaan Jalan Braga dan Jalan Asia Afrika, tetapi pesonamu seakan tak pernah pudar. Selama 123 tahun sudah wajah elokmu turut menjadi saksi perjalanan Kota Bandung hingga saat ini.
Braga

Braga, kau benar-benar lelap malam itu. Lihatlah, toko-toko usaha di sepanjang tepi jalanmu sudah menemukan “jalan lain” untuk rehat. Lihat pula di atas trotoar dan jalanmu, hanya hamparan batu andesit yang belum lama dibasahi rintik.
Cikapundung Barat

Kawasan kuliner dan grafir legendaris Jalan Cikapundung Barat ini bukan “pundung” karena sepi. Namun, saat itu sudah masuk dini hari sehingga sudah tak tercium aroma jajanan enak dan hidangan sedap yang menggugah selera makan.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
