Peuyeum Bandung dan Secuil Kisah Legitnya
Peuyeum, bicara makanan ini tak akan lepas dari nama Bandung. Betapa makanan dari tapai singkong tersebut sudah lama menjadi kuliner khas kota ini, bahkan sejak zaman Hindia Belanda.
Ternyata, camilan bertekstur empuk dengan cita rasa asam dan manis ini punya cerita yang menarik. Lantas, bagaimana kisah legit peuyeum Bandung?
Kondisi ekonomi bangsa Indonesia saat kolonialisme merajalela memang memprihatinkan. Waktu itu, tepatnya sebelum Indonesia merdeka—masyarakat sangat sulit memperoleh beras sebagai bahan dasar untuk menanak nasi.
Di satu sisi produksi singkong justru melimpah. Oleh karena itu, tak mengherankan masyarakat memanfaatkannya sebagai pengganti nasi untuk kebutuhan sehari-hari.
Namun, produksi singkong yang melimpah tidak serta-merta segalanya menawarkan manfaat. Saking melimpahnya, ada kondisi sebagian singkong yang belum dikonsumsi atau diolah malah menjadi busuk.
Untuk menghindari kondisi semacam itu, masyarakat mengolah singkong hasil panen dari kebun dengan cara fermentasi menggunakan bahan ragi. Tujuan utamanya adalah agar singkong tersebut bisa bertahan lebih lama sehingga terciptalah peuyem hasil dari fermentasi tersebut.
Hingga sekarang, belum diketahui secara pasti siapa orang yang pertama melakukan fermentasi pada singkong tersebut. Namun, faktanya, keberadaan peuyeum di Bandung salah satunya tak lepas dari nama Cimenyan, kecamatan di Kabupaten Bandung.
Oleh-oleh
Sebagai oleh-oleh khas Bandung, peuyeum hampir selalu ada setiap hari untuk dijajakan terutama di daerah wisata, seperti Jalan Cihampelas, Kota Bandung. Biasanya para pedagang menjajakannya di kios-kios.
Peuyeum berkualitas baik umumnya memiliki cita rasa yang sedap. Jika diperhatikan, warnanya terlihat kekuningan dan teksturnya empuk alias tidak keras. Oleh sebab itu, banyak orang yang menyebutnya peuyeum Bandung si Madu.
Saat ini, para pedagang menjual peuyeum Bandung dengan harga rata-rata Rp20.000 per kilogramnya. Ukuran kecil atau besar harganya relatif sama, bergantung pada selera pembeli yang kebanyakan wisatawan. Uniknya, untuk jumlah besar pedagang akan mengemasnya dengan bongsang bukan kantung plastik.
Seiring perkembangan zaman, peuyeum banyak disajikan dengan beragam olahan dan cara yang berbeda, seperti colenak, donat, bolen, es krim hingga klapertart.*
Bidik juga:
