Skip links
Kereta Peti Sabun

Nostalgia Lomba Kereta Peti Sabun di Pasar Seni ITB 2025

Siapa sangka, tradisi unik dan legendaris lomba kereta peti sabun mampu bertahan di tengah modernisasi dan hiruk-pikuk Kota Bandung. Bukan cuma bertahan, lomba ini terus menorehkan sejarah baru.

Dalam satu mata acara Pasar Seni ITB 2025, kereta peti sabun kembali menyuguhkan hiburan nostalgia sekaligus menguji kreativitas dan adrenalin. Organisasi Daya Mahasiswa Sunda (Damas) terdepan dalam barisan memasyarakatkan ajang balapan kendaraan roda empat tanpa mesin ini.

Sirkuit Sabuga

Kontur jalan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) ITB disulap menjadi sirkuit lomba kereta peti sabun yang ke-12 ini. Lintasan jalan dengan elevasi sekira 30 derajat sepanjang kurang lebih 300 meter menjadi tantangan para pembalap yang terdiri dari pelajar dan mahasiswa.

Ada tiga kategori yang dilombakan pada hari pertama, Sabtu, 18 Oktober 2025, yaitu junior, senior, dan expert.

Para pembalap memulai balapan dari table top dengan bidang miring agar kereta yang dikemudikan dapat melaju kencang sejak start. Sebelum lomba para pembalap melakukan latihan bebas untuk mengenali trek menurun dengan dua tikungan tersebut. Selama lomba, lintasan wajib bersih dari jatuhan dedaunan ataupun sampah yang tercecer.

Puluhan peserta ambil bagian dalam lomba yang mengusung slogan “gorolongkeun weh” tersebut. Sebab, lomba ini mengandalkan desain kereta dan keterampilan pengemudi untuk memaksimalkan kecepatan kereta karya sendiri yang tanpa mesin.

Pendek kata, para pembalap bergantung pada desain termasuk aerodinamika kendaraan dan keterampilan mengemudi. Kereta peti sabun merupakan kendaraan tanpa mesin yang melaju hanya memanfaatkan gravitasi. Itulah mengapa kendaraan yang dirancang sendiri tersebut harus digelar di lintasan dengan kontur jalan menurun.

Tradisi Bandung

Mengutip laman damas.co.id, perlombaan ini mulai populer di Amerika Setikat, tepatnya Ohio, sekitar tahun 1930-an. Di Indonesia, ajang pertama digelar di Sukajadi, Kota Bandung, pada 1950 yang digagas oleh surat kabar harian AID de Preangerbode. Namanya Lomba Kereta Peti Sabun atau “Zeepkiste Rennen” dan sukses serta meriah sebagai kejuaraan tingkat Priangan.

Pada 1975 Damas bekerja sama dengan Surat Kabar Pikiran Rakyat menggelar Lomba Kereta Peti Sabun untuk pertama kalinya. Lomba ini mampu digelar hingga edisi ke-9 tahun 1988 kemudian vakum untuk jangka waktu lama.

Setelah 35 tahun vakum, lomba tradisi unik ini kembali “mengaspal” pada 2023 dengan memanfaatkan kontur miring Jalan Diponegoro. Akhir tahun lalu, lomba ke-11 digelar di lintasan Sabuga.*

Bidik juga:

Sepotong Kisah Pasar Seni ITB

Leave a comment

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom casibom casibom casibom güncel giriş