Monpera Jabar, Ternyata Ini Makna Filosofisnya!
Monpera Jabar—akronim dari Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat—tak sekadar bangunannya yang indah, tetapi juga mengandung makna filosofis yang dalam. Berdiri gagah di Jalan Dipatiukur No. 48 Kota Bandung, monumen ini memiliki tampilan bernuansa putih terang dengan sentuhan dekoratif.
Salah satu tujuan pembangunan monumen ini adalah untuk memperingati perjuangan rakyat Jawa Barat saat melawan penjajah. Peletakan batu pertama pembangunan dilakukan pada 1 Juni 1991, selesai dalam empat tahun dan diresmikan pada 23 Agustus 1995.
Dalam catatan data di Monpera, arsitek bangunannya adalah Slamet Wirasonjaya dan pematung Sunaryo. Mereka adalah pemenang sayembara desain Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat.
Makna filosofis
Posisi Monpera Jabar satu garis lurus dan berhadapan secara langsung dengan Gedung Sate dan membelakangi Gunung Tangkuban Parahu. Selain kebudayaan Sunda, fisik monumen juga merepresentasikan perjuangan.
Kebudayaan Sunda tidak mengenal pusat (sentral), melainkan tersebar di berbagai tempat. Ciri itu digubah ke dalam konsep bentuk monumen yang tidak tunggal, tetapi plural. Bentuk monumen diwujudkan dalam lima unsur bentuk yang menjadi satu kesatuan harmonis (beungkeutan) yang satu sama lain hampir menyerupai.
Tiada perjuangan tanpa persatuan. Jadi, harus merupakan suatu ikatan. Namun, untuk menjadi satu ikatan persatuan memerlukan perjuangan. Pendek kata, perjuangan untuk persatuan dan persatuan untuk perjuangan.
Karakteristik perjuangan itu digambarkan ke dalam bentuk dalam satu rumpun. Bentuk-bentuk tersebut satu sama lain saling mengisi, saling berdialog, seperti halnya pokok pikiran perjuangan dan persatuan. Satu rumpun yang saling berdialog itu diungkapkan ke dalam perlambangan rumpun bambu yang berkesan mendalam.
Seturuk konsep di atas, wujud monumen digubah tidak tunggal, melainkan jamak. Tidak kaku, melainkan luwes, plastis sebagai perwujudan yang melambangkan salah satu sifat orang Sunda.
Untuk sampai pada daerah inti munumen, pengunjung harus menaiki tangga. Cahaya alam akan terlihat jatuh ke atas bidang (dinding) monumen yang akan menampilkan relung-relung artistik, bernuansa, dan tajam.
Cahaya alam yang digubah tersebut merupakan bagian yang memperindah keplastisan monumen. Selain itu, orientasi Monpera tidak ke satu arah, tetapi ke segala arah sesuai dengan sifat masyarakat Sunda yang terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru.*
Bidik juga:
