Skip links
Masjid Agung Bandung

Masjid Agung Bandung: Sepotong Wajah Perjalanan

Boleh dibilang, Masjid Agung Bandung adalah masjid tertua di Kota Bandung dan masih aktif sampai saat ini, selama lebih dari dua abad. Mulai dibangun pada 1810—seiring dengan berdirinya Kota Bandung—masjid di tengah kota ini bertransformasi karena beberapa kali mengalami renovasi.

Awalnya, masjid hadir dengan bentuknya yang sederhana dan tradisional, berupa panggung bermaterial bilik bambu dan beratap rumbia. Waktu itu, di bagian halaman depan masjid terdapat kolam yang cukup luas tempat untuk mengambil air wudu bagi para jemaah.

Pada 1825 terjadi kebakaran di kawasan alun-alun. Qadarullah, masyarakat bahu-membahu berhasil memadamkan api dengan air dari kolam itu. Setahun berselang, masjid mengalami penggantian material pada bagian dinding dan atapnya dengan menggunakan material kayu.

Ya, istilah “Bale Nyungcung” yang merujuk pada masjid ini pernah populer di tengah masyarakat Bandung tempo dulu. Itu bermula dari penggantian atap masjid yang terbuat dari genting dengan atap berbentuk prisma tiga tingkat pada 1850. Dindingnya pun disulap jadi material tembok batu. Waktu itu, sekeliling masjid dilengkapi pintu gerbang dan berhalaman luas dengan pagar setinggi dua meter berornamen khas Priangan bermotif sisik ikan.

Wajah masjid kembali berubah tahun 1875. Fondasi dan tembok pagar yang mengelilingi masjid diganti dengan deretan kolom “doric” Yunani.

Memasuki abad ke-20, fasilitas masjid menjadi semakin lengkap dengan hadirnya mihrab dan pawestren (teras di samping kiri dan kanan masjid). Tak cuma itu. Ada juga beduk yang besar, kentongan, dan kolam, tetapi belum dilengkapi dengan menara yang menjulang. Baru pada 1930, dibangun dua menara di sisi kiri dan kanan dengan bentuk puncak atap mirip dengan bentuk atap masjid ini.

Kubah

Medio dekade 1950, masjid mulai kehilangan ikon utamanya. Atap Bale Nyungcung telah tergantikan oleh atap kubah dengan model bawang. Pasa masa ini, halaman masjid menjadi lebih sempit. Sebabnya, pawestren dan dua menara dibongkar untuk kepentingan perluasan area masjid. Angin puting beliung menyebabkan kerusakan pada bagian atap bawang. Masjid pun mengalami renovasi yang cukup besar pada 1973 dan ruang utama dibuat bertingkat.

Lantai dua berupa mezanin yang terhubung ke serambi luar, dihubungkan dengan jembatan beton ke bagian sisi barat alun-alun. Atap menjadi bentuk joglo.

Renovasi besar kembali terjadi pada 2003. Dinding masjid diganti dengan material batu alam berkualitas tinggi, atap joglo berubah menjadi atap kubah seperti terlihat sekarang.

Tahun itu, Masjid Agung Bandung dengan luas total 23.448 meter dan kapasitas 12.000 jemaah tersebut juga memiliki menara kembar yang menjulang setinggi 81 meter.*

Foto: Dudi Sugandi

Bidik juga:

Masjid Raya Bandung: Jantung Iman di Tengah Kota

Leave a comment

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom casibom casibom casibom güncel giriş