Haji Geyot, Maskot Unik Ramadan Kota Bandung
Haji Geyot sempat populer pada era 1990-an di Kota Bandung. Ia bukan nama seseorang, tetapi kata orang, inilah maskot Ramadan di Parijs van Java. Tak mengherankan disebut demikian sebab ia hadir dengan kekhasannya menyemarakkan Ramadan sembari menghibur masyarakat Kota Kembang. Setiap hari, penampilannya menjadi pusat perhatian ribuan pasang mata, mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Berbeda dengan zaman sekarang tatkala hiburan bisa dengan mudah diperoleh di dunia maya, warga Kota Bandung dulu mengisi luang menanti azan magrib dengan ngabuburit. Ya, hiburan di dunia nyata dan salah satu yang dituju adalah panggung tempat boneka penabuh beduk itu berada.
Haji Geyot dikenal sebagai boneka bergerak yang mengenakan baju koko lengkap dengan sarung dan peci hitam. Mulanya, saat tampil ia hanya bergoyang di bagian pinggul yang menjadi ciri khasnya, bahkan hingga sekarang. Seiring waktu, ada pembaruan sehingga gerakannya bertambah di bagian kepala dan tangan sembari memukul beduk. Goyangan khas dan sederhana di bagian pinggul inilah yang mengundang tawa karena tampak lucu.
Joen Rustandi—sang pembuat maskot—mengkreasi boneka tersebut dengan material dasar styrofoam dan kerangka besi. Ia memanfaatkan dinamo mesin jahit sebagai penggeraknya.
Pertama kali, Haji Geyot tampil di Hotel Savoy Homann pada tahun 1990 untuk menyambut Idulfitri. Waktu itu, ia ditempatkan di atas lobi hotel. Spontan, aksi “Pak Haji” menjadi tontonan warga sekitar dan warga yang sedang melintas di Jalan Asia Afrika.
Dalam catatan khusus berjudul “Kota Bandung Tempat Lahirnya Haji Geyot”, Joen menceritakan beberapa kejadian lucu. Misalnya, cerita saat bus kota yang melintas naik trotoar sehingga kaca spionnya pecah menabrak tiang listrik. Selain itu, ada mobil menabrak mobil lainnya. Ada pula pengendara motor yang jatuh karena keasyikkan melihat Haji Geyot beraksi, dan masih banyak lagi. Akan tetapi, itu bukanlah kecelakaan fatal. Malah, mengundang gelak tawa warga lain yang ada di sekitar sampai-sampai bikin lalu lintas macet.
Menabuh di beberapa tempat
Setahun berselang, sebanyak empat boneka disebar di empat titik keramaian atas inisiatif Wali Kota Bandung saat itu, Ateng Wahyudi. Haji Geyot pun tampil di Jalan Setiabudi, Cicaheum, Tegalega, dan Cibeureum dengan material baru dari fiberglass. Waktu itu, aksi “Pak Haji” dilengkapi perangkat sistem suara dan lampu hias sehingga terlihat lebih menarik. Sejak itu, ia menjelma sebagai figur yang selalu dinanti setiap Ramadan di Kota Bandung.
Lantas, bagaimana mechanical figure ini diberi nama Haji Geyot?
“Waktu pemasangan di Tegallega, Pak Wali datang. Pak Wali bilang sambil teriak. ‘tong tarik-tarik teuing atuh geyotna’ (jangan terlalu kencang goyangannya). Dari situ mungkin orang jadi ambil kata geyot-nya sampai akhirnya ke sini dipakai nama itu,” ujar Ginanjar, putra kedua mendiang Joen Rustandi sekaligus penerus pembuatan maskot tersebut.
Sayang, entah mengapa keberadaan sang maskot di Kota Bandung sempat menghilang selama bertahun-tahun. Tak terlihat lagi goyangan pinggul, gelengan kepala dan tabuhan beduknya kala Ramadan. Namun, ia sudah kembali berkat bank bjb yang menangkap rekaman masa lampau Haji Geyot sekaligus nostalgia.
Termasuk Ramadan tahun 2024 ini, beberapa Haji Geyot kembali tampil di beberapa lokasi. Boneka berukuran tinggi 2,3 meter ditampilkan di keramaian, antara lain di Jalan Braga dan pelataran Masjid Raya Al Jabbar.
Jika diamati sepintas, hampir tak ada yang berbeda dengan penampilannya bertahun-tahun silam. Ia tetap sederhana dengan segala ciri khas dan keunikannya, yaitu bergoyang sembari ngadulag (memukul beduk). Bagaimana pun, Haji Geyot pernah menjadi maskot yang menampilkan perpaduan teknologi, seni, dan tradisi yang asyik serta menghibur saat Ramadan di Kota Bandung.*
Bidik juga:
