GOR Saparua, Saksi Bisu Perjalanan Musik Underground Bandung
Bangunan klasik yang berada di Jalan Ambon, Kota Bandung, dikenal luas dengan nama Gelanggang Olah Raga (GOR) Saparua. Sesuai namanya, bangunan ini difungsikan sebagai tempat masyarakat berolahraga.
Akan tetapi, GOR Saparua juga menjadi saksi bisu perjalanan musisi underground Bandung pada dekade 1990-an. Situs cagar budaya ini telah melahirkan grup band ternama dari Parijs van Java, seperti Burgerkill, Jasad, Puppen, dan Koil.
Jauh sebelum itu, di atas lahan GOR Saparua berada merupakan lapangan atau lahan kosong. Lapangan sering dipergunakan tentara atau militer sebagai tempat latihan dan upacara.
Pada 1910, di sebagian lahan kosong ini dibangun sarana untuk berolahraga masyarakat. Namanya Nederlands Indie Athletiek Unie (NIAU) sekaligus lapangan olahraga publik pertama di Bandung. Adapun jenis olahraga yang umum dilakukan waktu itu di lapangan ini antara lain atletik, baseball, cricket, dan senam.
Memasuki dekade 1920-an, lapangan NIAU banyak dikunjungi warga Bandung untuk sekadar bermain atau rekreasi. Saat Jaarbeurs (pasar tahunan 1920–1941) berlangsung sepanjang Juni–Juli, NIAU juga digunakan untuk mendukung penyelenggaraannya.
Ketika itu, di satu sudut lapangan yang kosong, didirikan panggung untuk pertunjukan Krontjong Concours atau semacam lomba menyanyi. Dari tempat inilah komponis Ismail Marzuki berjumpa dengan Euis Zuraidah yang kelak menjadi istrinya. Euis Zuraidah adalah salah seorang penyanyi yang memenangkan Krontjong Concours.
Arsitektur
Belum diketahui siapa arsitek bangunan GOR Saparua yang dibangun pada 1961. Mulanya, arsitektur bangunannya jengki, yaitu gaya arsitektur khas Indonesia yang terpengaruh Amerika. Gaya arsitektur ini berkembang antara tahun 1950–1970. Bangunan ini dibuat untuk mendukung fasilitas penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) di Jawa Barat tahun 1961. Pemerintah juga merenovasi gelanggang ini untuk mendukung venue PON Jawa Barat tahun 2016.
Tempat pertunjukan seni
Memasuki dekade 1980-an, GOR Saparua sering digunakan sebagai pertunjukan seni, mulai dari puisi hingga musik pop. Penyair legendaris Indonesia, WS Rendra, pernah melakukan pembacaan puisi di sana.
Pada 1990-an, gelanggang olahraga ini disulap menjadi tempat kreativitas musisi Bandung khususnya underground. Pentas musik di sana diisi ratusan grup band independen bergenre punk, heavy metal, grindcore, hardcore, ska hingga blackmetal. Hampir setiap pekan, gelanggang olahraga ini ramai oleh pentas seni cadas kawula Bandung.*
Bidik juga:
