Flyover Pasupati Bandung Bersolek, Cantik Pakai Relief
Flyover Pasupati Bandung yang berganti nama menjadi Jalan Prof. Mochtar Kusumaatmadja pada 2022, kini sedang bersolek. Namun, bukan jalannya yang dipercantik karena masih mulus, melainkan dinding pembatas yang dihias segmen beton GRC bergambar relief.
Terlihat pada segmen beton pipih kira-kira setebal 3 cm tersebut sejumlah gambar yang mencerminkan tentang Bandung. Misalnya, gambar orang dengan pakaian adat pangsi, kujang, angklung, suling, dan ilustrasi garis berombak yang merujuk pada Sungai Cikapundung. Garis berombak ini mengingatkan pada salah satu bagian bidang lambang Kota Bandung.
Untuk bagian luar, bidang relief yang dipasang berukuran sekitar 150×150 cm, sedangkan bagian dalam 150×400 cm dan sisanya ukuran kustom menyesuaikan bidang. Dengan adanya penambahan hiasan pada pembatas tengah, tepi kiri dan kanan bagian dalam dan luar, Flyover Pasupati terlihat makin indah.
Antigempa
Jalan layang ikonik sekaligus terpanjang di Kota Bandung ini menghubungkan ruas Jalan Pasteur menuju Jalan Surapati (Pasupati) di utara Lapang Gasibu. Itulah mengapa mulanya bernama Pasupati, gabungan dari dua nama jalan tadi.
Jalan Layang Pasupati beririsan dengan salah satu jalan paling populer di Kota Bandung, yaitu Jl. Ir. H. Djuanda yang awalnya bernama Jalan Dago. Djuanda adalah senior Mochtar Kusumaatmadja di ranah pemerintahan dan diplomasi. Mereka sama-sama memperjuangkan Wawasan Nusantara.
Infrastruktur jalan dengan panjang 2,8 kilometer dan lebar 60 meter terwujud berkat dukungan bantuan dana hibah dari Pemerintah Kuwait. Mengutip dari laman bpsdm.pu.go.id, konstruksi Jalan Layang Pasupati atau Jalan Layang Prof. Mochtar Kusumaatmadja mengandung segmen beton sebanyak 663 unit. Disebutkan, segmen beton tersebut memiliki berat 80-150 ton per segmen.
Di atas lembah Cikapundung, jalan layang ini memiliki jembatan yang membentang kurang lebih 161 meter. Konstruksinya, beton diikat dengan sistem cable stayed yang kokoh. Ada sembilan kabel baja yang terikat pada jembatan di bagian timur dan sepuluh atau lima pasang di bagian barat.
Jalan layang yang pertama kali diujicobakan pada 26 Juni 2005 tercatat sebagai jalan layang pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi antigempa. Flyover Pasupati dilengkapi dengan perangkat yang disebut Lock Up Device (LUD) buatan Perancis sebanyak 76 unit.*
Bidik juga:
