Cerita Singkat Teleskop, Alat untuk Melihat Benda Langit
Teleskop, mengutip laman spaceplace.nasa.gov, adalah alat yang digunakan para astronom untuk melihat objek yang jauh, salah satunya benda langit. Alat ini pula yang digunakan untuk melihat hilal, yaitu bulan sabit—bulan yang terbit pada tanggal satu bulan Kamariah. Misalnya, digunakan dalam penentuan tanggal satu Ramadan dan satu Syawal.
Kebanyakan teleskop, termasuk yang berukuran besar, bekerja dengan menggunakan cermin melengkung untuk mengumpulkan dan memfokuskan cahaya dari langit malam. Secara umum, alat ini memfokuskan cahaya dengan menggunakan potongan kaca bening melengkung yang disebut lensa.
Jadi, mengapa menggunakan cermin? Sebab, cermin lebih ringan dan lebih mudah dibuat halus sempurna dibandingkan lensa.
Cermin atau lensa pada teleskop disebut optik. Teleskop yang sangat kuat dapat melihat benda-benda yang sangat redup dan jaraknya sangat jauh. Untuk melakukan hal tersebut, optiknya—baik itu cermin atau lensa—harus berukuran sangat besar. Semakin besar cermin atau lensa, semakin banyak cahaya yang dikumpulkan oleh alat optik tersebut. Cahaya kemudian dikonsentrasikan dalam bentuk optik.
Sejarah singkat
Laman loc.gov menyebut, penemuan teleskop memainkan peran penting dalam memajukan pemahaman kita tentang posisi bumi di alam semesta. Meskipun terdapat bukti bahwa prinsip-prinsip teleskop telah dikenal pada akhir abad ke-16, alat tersebut pertama dibuat di Belanda pada 1608.
Pembuat kacamata Hans Lippershey & Zacharias Janssen dan Jacob Matius secara independen membuat teropong besar tersebut. Ini muncul dari tradisi keahlian dan inovasi teknis seputar kacamata dan perkembangan ilmu optik yang ditelusuri oleh para ilmuwan. Misalnya, Roger Bacon dan serangkaian ilmuwan Muslim khususnya Al-Kindi (801–873), Ibnu Sahl (940–1000), dan Ibn al-Haytham (965–1040).
Loc.gov juga menyebut, teleskop awal terutama digunakan untuk melakukan pengamatan di bumi, seperti survei dan taktik militer. Galileo Galilei (1564–1642) adalah bagian dari sekelompok kecil astronom yang mengarahkan teleskop ke langit.
Setelah mendengar tentang “kaca perspektif Denmark” pada 1609, Galileo membuat teleskopnya sendiri. Dia kemudian mendemonstrasikan hasil karyanya di Venesia, Italia. Demonstrasi teleskopnya membuatnya mendapatkan jabatan dosen seumur hidup.
Meneruskan kesuksesan awalnya, Galileo fokus pada penyempurnaan instrumen tersebut. Teleskop awal yang dia ciptakan—dan buatan Belanda yang menjadi dasarnya—memperbesar objek dengan tiga diameter. Artinya, hal itu membuat benda tampak tiga kali lebih besar ketimbang jika lihat dengan mata telanjang.
Melalui penyempurnaan desain teleskop, Galileo mengembangkan instrumen yang dapat memperbesar delapan kali, dan akhirnya tiga puluh kali lipat.*
Bidik juga:
