Skip links
Alun-alun Bandung.

Alun-Alun Bandung, Dulu Tempat Sakral?

Alun-Alun Bandung, seperti kebanyakan alun-alun khususnya di Pulau Jawa, sering kali dipercaya oleh penduduk lokal dengan kesan sakral atau magis. Benarkah dulu tempat ini sakral?

Jika kita melihat secara kasat mata, alun-alun biasanya berupa sepetak lapangan luas dan terletak di depan pendopo atau keraton pada masa kerajaan. Kesan magis terasa karena adanya pohon (umumnya beringin) yang ditanam di tengah atau pinggir alun-alun.

Selain magis, alun-alun juga memiliki kesan menyeramkan. Apa sebab? Pada masanya, alun-alun kerap digunakan sebagai tempat kegiatan resmi kenegaraan, termasuk pelaksanaan atau eksekusi hukuman bagi pelaku kriminal.

Alun-Alun Bandung, menurut catatan sejarah, merupakan salah satu unsur pembentuk kota sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Bandung. Dalam Jurnal Patanjala disebutkan, alun-alun yang dibangun pada 1810 seturut dengan prinsip kosmologi ini merupakan wujud dari tata ruang kota, tepatnya tata ruang kota tradisional.

Pada masanya, alun-alun juga menjadi tempat rakyat menghadap kepada rajanya untuk menyampaikan pesan. Seturut penelitian, di samping kedudukan raja sebagai penguasa, ia juga adalah pemimpin tertinggi keagamaan. Penegasan ini disimbolkan dengan hadirnya pusat kegiatan ritual keagamaan di alun-alun dan dibangunnya masjid di sebelah barat sebagai simbol kekuasaan raja di bidang keagamaan.

Secara kosmologis, Alun-Alun Bandung menjadi batas wilayah sakral dan profan karena posisinya berada di antara pendopo dan Gunung Tangkuban Parahu. Saat pembangunan alun-alun, tata ruang kota menyesuaikan dengan pendopo di sebelah selatan sebagai mikrokosmos dan Gunung Tangkuban Parahu di utara sebagai makrokosmos.

Ruang publik

Pada kurun Mei–September 1810, Kabupaten Bandung merupakan wilayah yang berada di bawah kekuasaan Pemerintah Hindia Belanda. Waktu itu, Bandung hanyalah sebuah kabupaten meskipun para Bupati Bandung memiliki hubungan kekerabatan dengan raja-raja Sunda sebelumnya.

Selain wilayah sakral, Alun-Alun Bandung dilengkapi dengan babancong. Ini merupakan bangunan kecil tempat bupati berpidato saat acara-acara resmi ataupun pengumuman penting lainnya yang disampaikan pihak pendopo atau kabupaten. Namun sayang, babancong di alun-alun ini sudah tidak tampak lagi sejak 1930-an.

Pohon beringin yang dulu ditanam pun sudah tak ada. Hingga 1940-an, Alun-Alun Kota Bandung masih “dilindungi” oleh dua pohon beringin besar di tengah dan enam pohon beringin lainnya di beberapa sudutnya.

Dalam perkembangannya, Alun-Alun Bandung mengalami pergeseran, baik secara simbolik maupun makna. Sejak awal abad ke XX, secara pragmatis, Alun-Alun Bandung sudah tak lagi menunjukkan fungsi yang semula. Alun-alun telah berubah menjadi fungsi lapangan luas yang terbuka untuk aktivitas masyarakat, bahkan menjadi lapangan sepak bola kala itu.

Sekitar 1950-an, Pemerintah Kota Bandung merevitalisasi wajah alun-alun dan mengubahnya menjadi taman kota terbuka. Saat ini, meski sudah berbeda tampilan, alun-alun ini masih berfungsi sebagai ruang publik, bahkan dengan desain yang artistik dan estetik.*

Bidik juga:

4 Fakta Braga, Jalan Legendaris di Kota Bandung

Leave a comment

Hacklink Hacklink Satış бэклинки casibom casibom casibom casibom güncel giriş