Tiap Kecamatan Beda Cerita, Bandung + Hujan = …?
Bandung berlapis dan terbingkai dalam 30 kecamatan—dari daerah bukit sampai cekungan kota. Saat hujan datang, tiap sudut punya cerita berbeda, tergambar dari elevasinya.
Bandung dan Cerita di Atas Awan
Bandung itu unik. Kota yang berdiri di cekungan, dikelilingi dataran tinggi. Maka wajar kalau tiap hujan, tiap sudut kota punya ceritanya sendiri—dipengaruhi elevasi yang berbeda-beda.
Semakin Tinggi, Semakin Dingin
Kecamatan seperti Cidadap, Sukajadi, dan Sukasari ada di elevasi lebih tinggi. Saat hujan, kabut sering turun lebih cepat dan angin terasa lebih menusuk. Udara di sini bisa turun beberapa derajat dalam hitungan menit.
Cekungan Kota, Hujan yang Menumpuk
Daerah Andir, Astanaanyar, Bojongloa Kaler, dan Bojongloa Kidul ada di elevasi lebih rendah. Karena berada di cekungan, intensitas hujan sering membuat air lebih mudah menggenang. Ritme hujan di sini terasa lebih “berat” dibanding kawasan atas.
Perjalanan Setetes Air
Bayangkan setetes air jatuh di Lembang, lalu mengalir ke bawah, melintasi kota. Elevasi 30 kecamatan di Kota Bandung seolah menentukan arah dan kecepatan setiap aliran. Karena itu, hujan di wilayah atas bisa berdampak sampai jauh ke bawah.
Bandung, Kota Berlapis-Lapis
Elevasi Kota Bandung bukan sekadar angka. Ini cara kota bernapas, menahan hujan, dan membentuk cuacanya. Dari dataran tinggi yang berkabut sampai cekungan kota yang hangat selepas hujan—semuanya menyatu jadi satu cerita yang kita rasakan setiap hari.
“Dari Bukit Pasir Sampai Tengah Kota”
- Sukajadi – 891 mdpl
- Sukasari – 856 mdpl
Di Sukajadi dan Sukasari, tinggal seperti berada di ‘atap’ Bandung. Saat hujan, udara sejuk cepat merayap, kabut bisa datang tiba-tiba. Kota terlihat dari atas, dan setiap tetes hujan terasa seperti undangan untuk menyendiri sejenak.
“Bukit Utara & Sekitar Pusat”
- Cidadap – 848 mdpl
- Coblong – 792 mdpl
- Bandung Wetan – 751 mdpl
- Cibeunying Kaler – 750 mdpl
Dari Cidadap sampai ke Coblong dan Bandung Wetan – elevasinya tinggi, tapi tidak terlalu ekstrem. Hujan menyapa hangat, lalu kabut samar mengendap di perbukitan. Inilah bagian Bandung yang jadi jembatan antara pegunungan dan kotanya.
“Menjelajah Perkotaan Dengkul Sedang”
- Andir – 733 mdpl
- Sumur Bandung – 712 mdpl
- Bandung Kulon – 709 mdpl
- Cibiru – 706 mdpl
- Cibeunying Kidul – 706 mdpl
- Babakan Ciparay – 697 mdpl
Di Andir, Sumur Bandung, sampai Bandung Kulon – elevasinya tengah-tengah. Hujan datang, jalanan berembun, lampu kota menyala redup, air mengalir ke saluran. Di sini, ‘hiruk-pikuk’ kota menyatu dengan lagu hujan yang lembut.
“Pinggiran Kota & Perpaduan Bukit–Lembah”
- Mandalajati – 760 mdpl
- Kiaracondong – 760 mdpl
- Arcamanik – 680 mdpl
- Antapani – 690 mdpl
Mandalajati dan Kiaracondong seperti pintu gerbang antara dataran tinggi dan datar. Arcamanik, Antapani, Bojongloa Kaler – berada di zona transisi. Saat hujan, area ini sering jadi saksi; aroma tanah basah, udara dingin menyusup di sela-sela aktivitas warga.
“Area Menengah ke Bawah – Menyatu dengan Jalan dan Sungai Kota”
- Bojongloa Kidul – 689 mdpl
- Regol – 686 mdpl
- Lengkong – 696 mdpl
- Bojongloa Kaler – 694 mdpl
- Astanaanyar – 695 mdpl
- Cicendo – 700 mdpl
Di wilayah ini, jalanan dan sungai kota lebih terasa. Hujan deras bikin air bergegas turun—genangan kadang menunggu. Tapi di balik itu, Bandung tetap hidup: suasana rumah, tawa anak-anak, dan aroma hujan yang mengundang kenangan.
“Bentang Tengah Bandung — Rumah dan Kehidupan Sehari-hari”
- Ujungberung – 698 mdpl
- Cinambo – 677 mdpl
- Panyileukan – 675 mdpl
- Bandung Kidul – 670 mdpl
- Batununggal – 682 mdpl
Area Ujungberung, Cinambo, sampai Bandung Kidul— keseharian warga dengan hujan yang kadang datang keras, kadang hanya gerimis. Elevasi tengah membuat wilayah ini terasa tenang, nyaman, ideal untuk rumah dan aktivitas pagi-sore setelah hujan reda.
“Cekungan Kota — Titik Terendah & Tumpuan Air”
- Rancasari – 670 mdpl
- Buah Batu – 670 mdpl
- Gedebage – 666 mdpl
Inilah bagian paling “rendah” di Bandung — cekungan tempat air hujan sering menumpuk. Gedebage, Rancasari, Buah Batu jadi saksi, ketika hujan deras air turun seperti aliran kecil menuju titik terendah. Hati-hati dengan genangan, tapi juga ingat: dari sinilah Bandung menerima hujan dengan sabar.
“Beragam Elevasi, Satu Bandung”
Saat hujan turun di Sukajadi—angin dingin getir membawa kabut. Di Gedebage—air bergerak pelan ke selokan, genangan bisa muncul. Di tengah kota—manusia tetap berjalan, payung terkerek, asap kopi di warung mengepul. Elevasi membuat tiap kecamatan punya cerita unik. Tapi semua tetap satu: Bandung, tempat kita pulang.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
Jarang Diungkap, Serbapertama di Bandung Era Hindia Belanda(2)
