Setopan Paling Lama di Bandung, Kenangan Paling Dalam
Di Kota Bandung yang selalu bergerak, banyak setopan alias lampu merah yang mengajarkan kita saat berhenti sejenak.
Bandung punya banyak persimpangan, tapi ada beberapa lampu merah yang terkenal “terlama”—tempat di mana warga belajar sabar, merenung, bahkan memulai obrolan kecil dengan sesama pengendara.
Kadang, hidup di Bandung tidak hanya tentang bergerak cepat. Justru di lampu merah terlama inilah kita belajar bahwa berhenti sebentar bukan berarti tertinggal. Kita hanya sedang diberi waktu untuk melihat hidup lebih jelas.
Seturut survei Goodstats, inilah 5 setopan di Kota Bandung:
1. Setopan Kiaracondong–Soekarno-Hatta (720 detik)
Setopan panjang yang penuh warna kehidupan.
Pedagang tisu, pengunyah cilok, pengendara lelah, semuanya bertemu dalam satu momen singkat—membuatnya terasa seperti panggung kecil keseharian Bandung.
2. Setopan Dago–Dipatiukur (200 detik)
Di titik paling sibuk Bandung, setopan ini seperti ritual harian.
Di sini, mahasiswa mengecek tugas, ojek online menarik napas panjang, dan para pekerja melirik jam sambil berharap lampu segera hijau.
3. Setopan Ujungberung (160 detik)
Tempat orang-orang kembali jadi ‘manusia biasa’.
Meski lampunya lama, di sini kita melihat banyak senyum. Kadang karena obrolan spontan, kadang karena melihat anak sekolah lewat sambil bercanda.
4. Setopan Simpang Cibiru (160 detik)
Waktu berhenti, tapi hidup tetap berjalan.
Lampu merah panjang di sini sering jadi jeda sebelum perjalanan jauh. Pengendara motor memeriksa helm, sopir angkot mengecek setoran, semua menata ulang energi.
5. Setopan Soekarno Hatta–Tol Pasir Koja (120 detik)
Gerbang keluar masuk Bandung yang selalu padat.
Di sini, suara klakson bercampur dengan harapan orang-orang yang ingin cepat sampai. Namun, justru di momen berhenti itulah kita melihat denyut kota paling jelas.
Mana setopan favorit kamu?
Setopan-setopan terlama ini seperti ritual harian. Di sini sering kali ojek online menarik napas panjang, sopir angkot mengecek setoran, pengendara motor memeriksa helm, dan para pekerja melirik jam sambil berharap lampu segera hijau.
Ketika lampu belum juga berubah, orang-orang mulai mengintip warung pinggir jalan. Kadang justru di sini kita merasa Bandung sedang meminta kita memperlambat langkah.
Lampu merahnya panjang, tapi momen ini sering jadi waktu emas untuk menyusun rencana terutama bagi yang mau mengejar jadwal kerja atau kuliah.
Pedagang tisu, pengamen yang sudah kayak lagi konser, pengendara lelah, semuanya bertemu dalam satu momen singkat—membuatnya terasa ibarat panggung kecil keseharian Bandung.*
Bidik juga:
