Masjid Besar Cipaganti, Antara Kenangan dan Keheningan
Di sudut utara Bandung tepatnya Cipaganti, ada masjid yang menyimpan napas sejarah dan doa ribuan jiwa. Namanya, Masjid Besar Cipaganti.
Dibangun pada 1933 hasil rancangan arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker, Masjid Besar Cipaganti telah menjadi simbol persatuan dua budaya.
Jika dilihat dari fisik bangunannya, gaya arsitektur Belanda berpadu dengan nuansa Islam yang menawan. Kubahnya lembut dan ukirannya berbisik tentang keindahan masa silam.
Saat azan pertama berkumandang di Cipaganti, udara berhenti sejenak, seolah ikut bersujud bersama menghadap Sang Pencipta. Adem rasanya berada di sana, menunaikan ibadah dan berjumpa jemaah dari berbagai kalangan.
Siapa sangka, masjid ini tetap berdiri meski zaman berganti. Ia, bahkan menjadi tempat berlindung, berdoa, dan menyusun harapan di masa sulit. Apa sebab?
Bagi sebagian orang, Masjid Besar Cipaganti bukan sekadar tempat salat atau mengaji dan mendengarkan khotbah. Di sinilah anak-anak belajar Islam, orang tua menunggu waktu magrib, dan tumbuh di antara langkah jemaah.
Masjid ini memeluk semua—tua, muda, kaya, miskin, pribumi, dan pendatang. Tak ada jarak di bawah kubahnya yang dari dulu tak pernah bersalin rupa.
Inilah salah satu masjid tua yang mewariskan banyak hal tentang penyebaran Islam di Bandung yang tak lekang oleh waktu. Setiap bata dan tiang Cipaganti adalah pesan: jaga warisanmu, cintai kotamu, jangan biarkan sejarahnya terlupakan.
Hening di tengah hiruk pikuk kota
Kini, di tengah hiruk pikuk Bandung modern, azan dari Cipaganti masih menggema—menenangkan hati yang lelah. Ketenangan masjid ini boleh jadi salah satunya berkat lokasinya yang dikelilingi banyak pohon rindang dan asri. Pun hawa khas Bandung utara yang menyejukkan dan bikin adem suasana sekitar masjid.
Jika Anda kebetulan lewat di Jalan Cipaganti, berhentilah sejenak. Dengarkan bisikan masa lalu dan rasakan damai yang masih sama sejak puluhan tahun lalu.
Lebih dari sekadar tempat ibadah, Masjid Besar Cipaganti adalah saksi bisu Bandung tumbuh—dari kota kolonial menjadi kota kenangan. Mari menyusuri kisahnya, setapak demi setapak.*
Bidik juga:
