Gedung GEBEO, Simbol Kemajuan Kelistrikan di Bandung
Gedung GEBEO (Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken), pernahkah Anda mendengar namanya?
Sebagai kota yang dikenal sebagai Parijs van Java, Bandung selalu bikin rindu dan mengundang kekaguman berkat keindahan gemerlap cahaya lampu kota kala malam tiba. Siapa sangka, di belakang gemerlap kota ini tersimpan jejak sejarah panjang tentang kemajuan teknologi kelistrikan di Tanah Air.
Gemerlap cahaya lampu dan kelistrikan khususnya di Bandung dan Jawa Barat tak lepas dari Gedung Gemeenschappelijk Electriciteitsbedrijf Bandoeng en Omstreken (GEBEO). Gedung di Jalan Asia Afrika No. 73 yang dibangun pada 1933 itu kini difungsikan sebagai Kantor PLN Distribusi Jawa Barat.
Arsitek kenamaan Hindia Belanda CP. Wolff Schoemaker merancang Gedung GEBEO dengan mengaplikasikan gaya arsitektur art-deco yang populer waktu itu. Jika diamati, bentuk bangunannya mirip kapal laut yang tengah berlabuh di tepi Sungai Cikapundung, bukan?
Namun, sayang, Gedung GEBEO rancangan awal Schoemaker sudah sirna. Penyebabnya adalah peristiwa Bandung Lautan Api 24 Maret 1946. Sebagian gedung anggun tersebut turut terbakar saat pembumihangusan kota yang dilakukan tentara dan rakyat Bandung. Waktu itu, sekira 200 ribu rakyat Bandung membakar bangunan dan rumah mereka dalam kurun tujuh jam. Rakyat dan tentara republik membakar rumah-rumah dan sejumlah bangunan itu agar Tentara Sekutu (Inggris) tidak bisa merebut wilayah Kota Bandung.
Restorasi
Kabar baiknya, Gedung GEBEO segera direstorasi pascaperistiwa Bandung Lautan Api. Bangunan yang terlihat sekarang merupakan hasil restorasi atau pemugaran yang dilakukan oleh arsitek kenamaan asal Amsterdam, Belanda, yaitu Gmelig Meyling. Terhadap gedung ini, sang arsitek tak hanya melakukan restorasi, tetapi juga perluasan.
Rupanya, restorasi gedung ini bukan sekadar langkah penyelamatan simbol kemajuan listrik di Bandung dan Jawa Barat. Lebih jauh dari itu, di area gedung ini terdapat salah satu mata air yang melimpah yang dikenal dengan nama Sumur Bandung. Mata air tersebut menjadi saksi bisu perjalanan Bandung sebagai kota sejak era Bupati RAA. Wiranatakusumah II.
Diameter Sumur Bandung di Gedung GEBEO sekitar 150 centimeter, dikeramik, diberi penutup berwarna kuning keemasan, dan kondisinya sangat terawat. Saat ini, air sumur hanya dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk kegiatan kebudayaan khususnya di wilayah Bandung dan Jawa Barat.
Boleh dibilang, Gedung GEBEO adalah sebuah karya arsitektur yang hidup, mewarisi sekaligus mewariskan sejarah masa Hindia Belanda hingga era modern. Mengapa? Gedung GEBEO bukan cuma menghadirkan estetika visual kota, tetapi juga mengingatkan setiap manusia tentang arti pentingnya menjaga, merawat, dan menghormati warisan kepada generasi sekarang dan mendatang.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
