Lapangan Saparua: Cinta Ismail Marzuki dan “Rumah” Band Cadas
Inilah lapangan olahraga publik pertama di Bandung: Lapangan Saparua. Anda punya kenangan indah di lapangan ini seperti Ismail Marzuki?
Ya, lapangan Saparua bukan sekadar ruang publik, tetapi juga saksi bisu perjalanan Kota Bandung era kolonial sampai menjadi pusat kegiatan kawula muda. Hingga awal abad ke-20, lapangan yang masih berupa lahan kosong itu sering digunakan tentara Hindia Belanda untuk latihan dan upacara.
Pada 1910, di lahan kosong itu, pemerintah membangun lapangan publik pertama di Bandung. Namanya, Nederlands-Indie Athletiek Unie (NIAU). Sebermula, Lapangan NIAU digunakan untuk berbagai aktivitas olahraga seperti atletik, kriket, baseball, dan senam massal.
Seiring waktu, NIAU digunakan sebagai area tambahan perhelatan Jaarbeurs (Pasar Tahunan) periode 1920–1941 yang biasa berlangsung setiap Juni–Juli. Pada momen bursa dan pameran komoditas itu, didirikan panggung tempat pentas Krontjong Concours atau semacam lomba menyanyi.
Di sinilah Ismail Marzuki berjumpa calon istrinya, Eulis Zuraida, penyanyi keroncong asal Bandung yang pernah memenangkan salah satu Krontjong Concours. Rasa sayang dan cinta sang komponis besar Indonesia kepada primadona pujaannya itu membawanya ke jenjang pernikahan pada 1940.
Namun, terhentinya Jaarbeurs dan kembalinya Ismail Marzuki ke Jakarta tak membuat Lapangan Saparua sepi karena aktivitas olahraga publik di sana terus berjalan. Pemerintah justru membangun gelanggang olahraga (GOR) pada 1961 sebagai tambahan fasilitas untuk mendukung Pekan Olahraga Nasional (PON) Jawa Barat.
Mulai 1980-an, GOR Saparua yang berarsitektur jengki kerap digunakan untuk berbagai pertunjukan kesenian, seperti konser hingga pertunjukan pembacaan puisi oleh WS Rendra.
Rumah Band Cadas
Era berganti, pertengahan dekade 1990, GOR Saparua membuka lembaran sejarah baru, yaitu di bidang musik underground. GOR Saparua menjadi rumah pentas bagi festival band-band independen dari berbagai genre musik, seperti punk, hardcore, grindcore, ska hingga black metal.
Pertunjukan band black metal, bahkan sering diwarnai prosesi ritual memanggil arwah sehingga menghadirkan suasana yang sangat mencekam.
Siapa yang masih ingat, Band-band cadas ternama macam Burgerkill, PAS Band, Pure Saturday, Balcony, Beside Out, Sandal Jepit, dan Forgotten pernah merasakan aura magis GOR Saparua?
Siapa pula yang menyangka ketika “hajat band cadas” digelar di sana, jumlah penonton yang hadir bisa mencapai 7 ribu orang. Padahal, kapasitas maksimal gor cuma 3 ribu orang.
Dari arena olahraga era kolonial hingga pusat budaya urban, Lapangan Saparua telah mengalami transformasi yang mencerminkan dinamika sosial dan budaya Bandung.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
