Hiking dan Trekking, Dua Saudara Petualangan yang Tak Sama
Hiking dan trekking sering kali dianggap sama oleh banyak orang awam. Padahal, keduanya ibarat dua saudara—mirip, tetapi punya karakter dan jiwa petualangan yang berbeda.
Lantas, apa perbedaannya?
Hiking
Secara umum, hiking biasanya soal menikmati alam tanpa harus mengorbankan banyak waktu dan tenaga. Dari sisi jarak tempuh, biasanya relatif pendek dari 1 hingga 10 kilometer, bahkan bisa bolak-balik di hari yang sama. Misalnya, trekking di Tahura Djuanda, Dago, Bandung.
Selain itu, lokasinya sering kali di bukit atau hutan kota, taman nasional atau pegunungan dengan medan ringan. Pendek kata, kita tak memerlukan perlengkapan yang ribet. Cukup membawa ransel kecil, air minum, sedikit camilan, dan kamera. Jika dianalogikan, hiking itu seperti ngopi bareng alam, sebentar tapi berkesan.
Trekking
Trekking adalah perjalanan panjang, berhari-hari, bahkan berpekan-pekan dengan ransel penuh logistik. Jalurnya kerap menuruni dan menaiki bukit, menyusuri lembah, menyeberangi sungai, dan bermalam di penginapan sederhana atau tenda di tengah dinginnya malam pegunungan.
Singkat kata, trekking adalah perjalanan panjang, menantang, dan transformatif. Dengan kata lain, trekking bukan soal jarak semata. Akan tetapi, lebih dari itu, berkaitan dengan durasi, mental, dan adaptasi.
Trekking biasanya menempuh jarak puluhan kilometer yang membutuhkan fisik yang siap. Selain itu, perjalanan ini membutuhkan peralatan lengkap, seperti sepatu gunung, baju ganti, logistik makanan, peta, senter, sleeping bag, bahkan obat pribadi. Jika diibaratkan, trekking adalah hidup di jalur, bukan sekadar numpang lewat.
Ada satu lagi yang membedakan keduanya, yaitu relasi dengan alam. Saat hiking, kita seperti tamu yang datang sebentar. Sementara, saat trekking, kita menjadi bagian dari alam itu sendiri. Kita merasakan panasnya siang, dinginnya malam, dan sepinya jalur saat tak ada sinyal sama sekali.
Jadi, jika Anda ingin jalan santai, menghirup udara segar sembari swafoto, hiking adalah sahabat Anda. Namun, jika Anda ingin tantangan, bertahan di jalur panjang, dan menemukan diri Anda sendiri lewat peluh dan langkah yang terus maju, maka trekking adalah guru besar yang sabar.
Keduanya punya pesona. Percaya atau tidak, sering kali kita mulai dari hiking lalu jatuh cinta pada trekking.*
Foto: pcta.org
Bidik juga:
