Nasi Mandi, dari Yaman ke Seantero Dunia
Nasi mandi/mandhi dikenal sebagai hidangan khas Yaman yang sangat disukai masyarakat dunia, termasuk Indonesia.
Anda mungkin merasa heran, tetapi mandi Yaman bukan sekadar hidangan. Ini adalah sebuah perjalanan ke dalam budaya yang kaya akan tradisi kuno dan praktik yang mengakar kuat. Bayangkan daging lezat yang dibumbui dengan rempah-rempah pilihan dan rempah-rempah segar yang memikat indera Anda. Selain itu, nasi ini penuh dengan aroma yang memikat, semuanya disiapkan melalui teknik yang telah lama ada.
Betul, ini bukan sajian nasi biasa. Nasi mandi adalah hidangan yang menyatukan orang-orang dan sering disajikan di atas piring bersama dalam suasana yang semarak dan autentik. Penasaran bagaimana teknik kuno ini menciptakan cita rasa yang unik?
Nasi mandi sejak lama dikenal sebagai hidangan tradisional. Seturut cso-yemen.org, ciri khas nasi ini dimasak dalam kaldu daging dan rempah-rempah sehingga menciptakan pengalaman yang unik dan beraroma. Hidangan menggugah selera ini menyajikan daging yang diasinkan dan dimasak perlahan dalam oven bawah tanah, meningkatkan rasa berasap dan kelembutannya.
Rempah-rempah segar seperti kapulaga, jinten, dan kunyit memberikan nasi mandi aroma dan rasa yang khas. Dalam perjalanannya nasi mandi menjadi hidangan bersama yang disajikan di atas piring besar yang melambangkan persatuan dan warisan budaya bersama. Mandi yang autentik dapat dinikmati di restoran dan pasar tradisional di Yaman, seperti di Sana’a dan Aden.
Asal-usul
Asal-usul mandi Yaman dapat ditelusuri kembali ke dataran tinggi kuno Yaman selama berabad-abad. Inilah tempat rempah-rempah aromatik dan daging empuk secara tradisional dimasak dalam oven bawah tanah. Bayangkan aroma rempah-rempah yang bercampur dengan aroma berasap dari daging yang dimasak perlahan yang tercium di udara desa. Tentu, ini bukan sekadar makanan karena ini adalah sejarah yang disajikan di atas piring.
Mandi Yaman sangat melekat dalam budaya Yaman. Laman cso-yemen.org menulisnya sebagai hidangan yang menceritakan kisah rute perdagangan dan kekayaan kehidupan Yaman. Secara historis, oven bawah tanah, yang dikenal sebagai “tandoor” atau “taboon,” adalah alat komunal, yang menyatukan orang-orang dalam perayaan dan kehidupan sehari-hari. Proses pembuatan mandi bukan hanya tentang memasak, tetapi juga tentang komunitas, tradisi, dan pewarisan kearifan kuliner dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Anda tidak dapat melebih-lebihkan signifikansi budayanya. Saat Anda duduk menikmati sepiring mandi, Anda tidak hanya mencicipi makanan. Pada saat bersamaan, Anda juga mengambil bagian dalam ritual yang telah melampaui waktu dan geografi. Ini adalah hidangan yang telah melewati pasir waktu, berkembang tetapi tetap mempertahankan esensi aslinya, mewujudkan semangat dan ketahanan budaya Yaman.
Bahan-bahan penting
Saat Anda bersiap untuk menikmati mandi Yaman, Anda akan menemukan bahwa keajaibannya terletak pada perpaduan harmonis bahan-bahan khusus. Bahan-bahan tersebut telah lama ada yang masing-masing berkontribusi pada cita rasa dan kekayaan budayanya yang tak terlupakan.
Perjalanan dimulai dengan pemilihan daging. Sering kali daging domba atau ayam yang direndam dalam ramuan yogurt, jus lemon, dan campuran rempah-rempah aromatik. Misalnya kunyit, jinten, dan ketumbar. Bumbu-bumbu yang beraroma ini tidak hanya melunakkan daging, tetapi juga memberikannya kompleksitas yang menari di langit-langit mulut Anda.
Nasi, bahan utama lainnya, sering dimasak dengan kaldu kental yang berasal dari daging yang direndam, menyerap sarinya. Penambahan kunyit atau saffron membuat nasi berwarna keemasan, melambangkan kemakmuran dan menambahkan aroma yang lembut.
Rempah-rempah aromatik seperti kapulaga, cengkih, dan kayu manis tidak hanya untuk rasa, tetapi juga menawarkan manfaat kesehatan. Cengkih dapat membantu pencernaan, sementara kapulaga dan kayu manis dikenal karena sifat anti-inflamasinya. Seiring waktu, nasi mandi Yaman tak hanya populer di negrei asalnya dan jazirah Arab. Akan tetapi, hidangan menggugah selera tersebut sudah menyebar ke seantero jagat dan disukai masyarakat berbagai kalangan.*
Foto: cso-yemen.org
Bidik juga:
