6 Ungkapan Romantis tentang Bandung
Bandung dikenal sebagai kota yang romantis dan dirindukan banyak orang. Daya pikat permainya kota ini, bahkan sudah sohor sejak masa Hindia Belanda. Tak mengherankan, jika banyak julukan yang disematkan pada kota berpenduduk mencapai 2,5 juta jiwa saat ini.
Parijs van Java, De Bloem der Indische Bergsteden (Bunganya kota pegunungan di Hindia Belanda), Kota Pensiunan, dan Kota Kembang adalah beberapa julukan Kota Bandung.
Sebelum desa mungil ini menjadi kota yang maju, sempat dikenal sebagai Pradise in Exile (Surga di Pengasingan) pada abad 18. Saat itu, Bandung sangat sepi dengan jumlah penduduk yang sangat sedikit. Belum ada bangunan permanen dan jalan masih relatif kecil. Kondisi daerah yang “asing” dan dipenuhi semak dan pohon-pohon besar membuat banyak orang luar enggan datang.
Namun, setelah kota ini menggeliat dan bangun dari tidurnya, perlahan mulai mendapat eksistensinya sebagai kota yang nyaman sebagai tempat tinggal atau rekreasi. Pemerintah Hindia Belanda, bahkan sempat merencanakan menjadikan Bandung sebagai ibu kota dan berpindah dari Batavia.
Rupanya, magnet kota ini juga membuat banyak orang mengaguminya dan menuangkannya dalam rangkaian kata. Ungkapan Bandung yang “ngangenin” dan romantis, bahkan datang juga dari tokoh bangsa Indonesia. Berikut ini 6 ungkapan romantis populer tentang Bandung.
“Bandoeng is het paradijs der aardsche schoonen. Daarom is het goed daar te wonen. (Bandung adalah sorga permai di atas dunia. Itulah sebabnya, baik untuk bermukim di sana).” – Bandoeng Vooruit.
“Don’t come to Bandoeng, if you left a wife at home.” – Majalah Mooi Bandoeng .
“Aku kembali ke Bandung kepada cintaku yang sesungguhnya.” – Ir. Soekarno (Presiden Republik Indonesia pertama).
“Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum.” – Martinus Antonius Weselinus Brouwer (psikolog/budayawan kelahiran Belanda).
“Bandung bagiku bukan cuma masalah geografis. Lebih dari itu, melibatkan perasaan yang bersamaku ketika sunyi.” – Pidi Baiq (penulis/seniman).
“Bagi saya, Bandung bukan hanya nama kota. Ia juga merupakan filosofi hidup.” – Ridwan Kamil (arsitek).*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
