105 Tahun Gedung Sate, Ibu Kota Gagal Pindah ke Bandung
Ibu kota Pemerintah Hindia Belanda dari Batavia ke Bandung yang diusulkan Gubernur Jenderal Hindia Belanda JP Graaf van Limburg Stirum pada 1916 nyaris terwujud.
Rencana ibu kota pindah ke Bandung itu diperkuat oleh studi kelayakan kesehatan Hendrik Freerk Tillema. Ia mengungkap bahwa kota yang terletak di tepi pantai kurang sehat. Itulah mengapa Bandung dipilih sebagai pengganti Batavia karena keindahan, kesejukan, kenyamanan, dan punya infrastruktur yang lengkap.
Selain stasiun besar, sejak 1921 Bandung punya Lapangan Andir (kini Bandara Internasional Husein Sastranegara). Kompleks pemerintahan pun mulai dibangun. Namanya Gouvernements Bedrijven yang dikenal oleh masyarakat dengan sebutan “He-Be” (GB).
Seiring waktu, sebutan “He-Be” untuk Gedung Sate oleh masyarakat Bandung, termasuk orang tua dan kakek nenek kita, mulai hilang pada akhir 1980-an.
Pembangunan
Sekelompok arsitek merancang Gedung Sate dengan arsitek utamanya Insinyur Johan Gerber. Arsitek muda kelahiran 6 Desember 1885 itu adalah lulusan Sekolah Teknik Delft Belanda. Pada gedung ini, Gerber memadukan antara wajah arsitektur budaya timur dan barat yang ditopang teknik konstruksi maju dari Barat.
Namun, siapa sangka, peletakan batu pertama pembangunan GB pada 27 Juli 1920 bukan dilakukan oleh pimpinan tertinggi Hindia Belanda, melainkan oleh Johanna Catherina Coops—putra pertama Wali Kota Bandung B. Coops—dan Petronella Roelofsen yang mewakili Gubernur Jenderal Limburg Stirum.
Proses pembangunan megaproyek era Hindia Belanda itu menghabiskan waktu selama empat tahun dengan biaya 6 juta gulden atau setara Rp45 miliar waktu itu. Kata maestro arsitek Hendriks Petrus Berlage, “Gedung ini mengingatkan pada gaya arsitektur Italia di masa renaisans, terutama bangunan sayap barat, sedangkan menara bertingkat di tengah bangunan mirip atap meru atau pagoda. Ungkapan arsitektur yang berhasil memadukan langgam timur dan barat secara harmonis.”
Rupanya, enam buah ornamen menyerupai jambu air di-“tusuk sate” bukan sekadar penangkal petir, tetapi juga melambangkan biaya pembangunan gedung.
Gedung Sate (Gouvernements Bedrijven) Bandung awal, sebagai bagian dari pusat pemerintahan difungsikan sebagai kantor Departemen Pekerjaan Umum dan Pengairan. Memang, kompleks pemerintahan tak rampung seluruhnya sesuai dengan rencana semula. Pemerintah hanya mampu membangun dua gedung, yaitu Gedung Sate dan Kantor Pos.
Hal tersebut dilatarbelakangi oleh krisis ekonomi pada dekade 1930-an. Akhirnya, pemindahan ibu kota pun gagal. Nama Gedung Sate yang kini berusia 105 tahun adalah ekspresi masyarakat seturut ciri khas dari gedung ini yang terlihat dari luar.*
Foto: Dudi Sugandi
Bidik juga:
